Jumat, 15 Januari 2010

Bintang kecil

Alkisah ada dua bintang dilangit yang hidup berdampingan. Yang satu disebut bintang besar karena dia berukuran besar. Dan yang satunya lagi disebut bintang kecil.

Pada suatu hari ada satu planet yang datang kepada si bintang besar. "Hai, bintang besar, aku sangat kedinginan. Bolehkah aku duduk didekatmu agar tubuhku hangat?". Jawab si bintang besar, " Tidak boleh! Aku tidak mau membagi energiku denganmu." Si planet ini sedih mendengar jawaban si bintang besar, tetapi si bintang kecil melambai kepadanya, "Kemarilah teman, duduklah denganku, aku akan menghangatkanmu." Mendekatlah si planet ini kepada si bintang kecil. Dan mereka menjadi teman. Si planet tidak lagi kedinginan.

Lalu keesokannya datang lagi satu planet kepada si bintang besar. " Bintang besar, bolehkah aku duduk dekatmu supaya tubuhku hangat karena aku sangat kedinginan disini?". "Tidak! Pergilah! Jangan ganggu aku", jawab si bintang besar. Dengan tubuh menggigil kedinginan, si planet berjalan menjauhi si bintang besar. Tapi si bintang kecil memanggilnya, "Hai, teman! Maukah kau duduk disampingku supaya tubuhmu hangat? Kemarilah!" dan datanglah planet itu kepada si bintang kecil dan rasa dinginnya hilang oleh karena kehangatan cahaya si bintang kecil.

Keesokkannya lagi, datang tujuh planet kepada si bintang besar, menyampaikan permintaan yang sama dengan kedua planet sebelumnya. Lagi-lagi si bintang besar menolaknya. Si bintang besar tidak mau diganggu. Dia ingin kehangatannya hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi si bintang kecil mengajak tujuh planet ini untuk duduk bersama-sam dengan dia.

Sekarang ada sembilan planet yang berkawan dengan si bintang kecil ini. Si bintang kecil dengan sukacita dan penuh kasih membagikan kehangatan cahayanya kepada teman-teman barunya. Apakah dengan membagi kehangatannya maka si bintang kecil menjadi redup? Apakah ia kehilangan sinar dan kehangatannya? TIDAK!

Justru dengan berbagi. maka bertambahlah cahaya yang ia punya. Dengan berbagi, dia menjadi besar oleh karena cahayanya bertambah. Dan yang penting adalah dia mempunyai banyak teman. Mereka bermain bersama, bergembira bersama dan mengalami sukacita yang luar biasa. Si bintang kecil bahagia karena bisa memberi kehangatannya untuk planet2 itu dan planet2 itu bahagia karena mereka tidak kedinginan lagi. Sedangkan si bintang besar menjadi redup dan kian menghilang cahayanya. Tidak ada lagi kehidupan pada bintang besar. Ia tidak punya kawan, karena dia egois.

Nah, bagaimana dengan kehidupan kita? Kita hidup seperti bintang besar atau bintang kecil? Apakah kita mau membagikan setiap berkat yang sudah Tuhan berikan pada kita? Atau apakah kita hanya menyimpan setiap berkat itu hanya untuk diri kita sendiri?

Sebagai anak2 Allah, pasti kita tahu bahwa Allah ingin menjadikan kita anak-NYa yang penuh kasih. Ada ungkapan bahwa kita bisa memberi tanpa mengasihi, tapi kita tidak bisa mengasihi tanpa memberi.

Allah sangat mengasihi kita sehingga Dia memberi begitu banyak berkat untuk kita bahkan AnakNya pun di berikan untuk menggantikan kita di kayu salib.

Allah adalah Kasih. Kasih itu tidak sombong dan tidak mementingkan diri sendiri. Allah sendiri telah memberi teladan kasih karena itu patutlah kita meneladaniNya.

Jadi marilah kita mulai memperlihatkan ciri khas hidup anak2 Allah yang sesungguhnya yaitu saling mengasihi dengan kasih yang tulus seperti yang telah dipraktekkan oleh Tuhan Yesus sebagai teladan kita.

God Bless u

Kamis, 14 Januari 2010

Ada Bapa Yang Mengemudi

Mazmur 23:2-3
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Seorang pembicara, Dr. Wan, menceritakan pengalamannya ketika ia dan seisi keluarganya tinggal di Eropa. Satu kali mereka hendak pergi ke Jerman. Dengan mengendarai mobil tanpa henti siang dan malam, mereka membutuhkan waktu tiga hari untuk tiba di sana. Mereka sekeluarga pun masuk ke dalam mobil -- dirinya, istrinya, dan anak perempuannya yang berumur 3 tahun. Anak perempuan kecilnya ini belum pernah bepergian pada malam hari. Malam pertama di dalam mobil, ia ketakutan dengan kegelapan di luar sana.

"Mau kemana kita, papa?"
"Ke rumah paman, di Jerman."
"Papa pernah ke sana?"
"Belum."
"Papa tahu jalan ke sana?"
"Mungkin, kita dapat lihat peta."
[Diam sejenak] "Papa tahu cara membaca peta?"
"Ya, kita akan sampai dengan aman."
[Diam lagi] "Dimana kita makan kalau kita lapar nanti?"
"Kita bisa berhenti di restoran di pinggir jalan."
"Papa tahu ada restoran di pinggir jalan?"
"Ya, ada."
"Papa tahu ada dimana?"
"Tidak, tapi kita akan menemukannya. "

Dialog yang sama berlangsung beberapa kali dalam malam pertama, dan juga pada malam kedua. Tapi pada malam ketiga, anak perempuannya ini diam. Dr. Wan berpikir mungkin dia telah tertidur. Tapi ketika ia melihat ke cermin, ia melihat anak perempuannya itu masih bangun dan hanya melihat-lihat ke sekeliling dengan tenang. Dia bertanya-tanya dalam hati kenapa anak perempuan kecil ini tidak menanyakan pertanyaan-pertanya annya lagi.

"Sayang, kamu tahu kemana kita pergi?"
"Jerman, rumah paman."
"Kamu tahu bagaimana kita akan sampai ke sana?"
"Tidak"
"Terus kenapa kamu tidak bertanya lagi?"
"Karena papa sedang mengemudi."

Jawaban dari anak perempuan kecil berumur 3 tahun ini kemudian menjadi kekuatan dan pertolongan bagi Dr. Wan selama bertahun-tahun, ketika dia mempunyai pertanyaan-pertanya an dan ketakutan-ketakutan dalam perjalanannya bersama Tuhan. Ya, Bapa kita sedang mengemudi. Kita mungkin tahu tujuan kita (seperti anak kecil yang tahu mau ke ‘Jerman' tanpa mengerti di mana atau apa itu sebenarnya). Kita tidak tahu jalan ke sana, kita tidak dapat membaca peta, kita tidak tahu apakah kita akan menemukan rumah makan sepanjang perjalanan. Tapi gadis kecil ini tahu hal terpenting, -- Papa sedang mengemudi -- dan dia aman.

Dia tahu papanya akan menyediakan semua yang dia butuhkan. Kenalkah engkau Bapa anda, Gembala Agung, sedang mengemudi hari ini? Apa sikap dan respon anda sebagai seorang penumpang, anak-Nya yang dikasihi-Nya?


Kita mungkin telah menanyakan terlalu banyak pertanyaan sebelumnya, tapi kita dapat menjadi anak kecil itu, belajar menyadari fokus terpenting adalah ‘Papa sedang mengemudi'. Tuhan adalah Bapa bagi anda. Ijinkan IA untuk mengemudikan hidup anda. Maka kekuatiran bukan menjadi milik anda lagi.